Lewati navigasi

Ingin Kembali Mengabdi di Jatim
Mayjen TNI (Purn) Haris Sudarno

KEMBALI mengabdi di Jawa Timur, ini kiranya yang akan dijalani seorang Haris Sudarno. Ia memang tak asing bagi masyarakat Jawa Timur. Ketika masih aktif didinas militer, putra guru ngaji ini telah beberapa kali mengemban tugas di Jawa Timur. Bahkan, berhasil membangun hubungan yang harmonis antara TNI, Muspida, PWI, Pimpinan Redaksi, Ulama, dan Tokoh masyarakat di Jatim.Bertemu dengan Bapak tiga putra saat ini, memang agak terasa lain. Maklum tak lagi mengenakan seragam militer. Haris Sudarno, yang sejak Letnan dua hingga Kolonel selalu berada di pasukan ini, terakhir mengabdi di Jawa Timur, sebagai Panglima Daerah Militer (Pangdam) V/ Brawijaya pada tahun 1993-1995, yang kemudian ke Jakarta, di Mabes AD, hingga pensiun.

Haris Sudarno dan Presiden Soeharto, pada suatu kesempatan
Namun, bukan berarti Haris kemudian menetap di Jakarta. Ia seringkali mudah ditemui di rumahnya di kawasan Juanda, meskipun akhirnya harus banyak di Jakarta. Ini terutama ketika mantan pimpinannya yang dikenal sebagai jenderal yang tak neko-nejo, lurus, Edi Sudradjat (Alm) memintanya untuk turut membantu melahirkan Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia, yang menjunjung tinggi semangat NKRI.

UNGGUL DI JAJAK PENDAPAT

Kini di Jawa Timur nama Haris Sudarno, sejak 2006, mulai dibicarakan lagi dan disebut-sebut oleh sejumlah kalangan sebagai tokoh yang memahami Jawa Timur secara utuh. Sosok yang diyakini mampu membangun Jawa Timur, sesuai keinginan masyarakatnya. Ini bertolak dari prestasi yang telah diukirnya.

Oleh sebab itu, jatim(dot)info melalui jajak pendapatnya, yang diangkat mulai September 2006 telah memunculkan nama Haris Sudarno sebagai salah satu kandidat calon Gubernur Jatim, menggantikan Imam Oetomo.

Dalam jajak pendapat itu, jatim(dot)info juga memunculkan tiga nama lain, yang telah terang-terangan ingin maju dalam bursa Pilgub Jatim 2008. Yakni Soenarjo, Soekarwo, dan Soetjipto, yang kesemuanya telah menetapkan partai yang akan diwakilinya.

Terkecuali Haris Sudarno, saat itu tidak ada yang tahu pasti, baik atas kesanggupannya untuk mengabdi di Jatim maupun partai politik yang akan digunakan sebagai kendaraan untuk maju dalam bursa Pilgub tersebut. Sekalipun demikian, ternyata Haris Sudarno menjadi pilihan dalam jajak pendapat jatim(dot)info.

LAPINDO

Oleh sebab itu, ketika awal tahun 2007 ditemui di rumahnya di kawasan Juanda dan diberitahukan tentang hasil poling tersebut, bapak yang tak suka popularitas ini terkejut, kaget. Ini diakui, juga sekaligus menumbuhkan kepercayaan dirinya atas dorongan dari berbagai kalangan, untuk maju dalam bursa orang nomor satu di Jawa Timur.

“Terima kasih informasinya. Hal itu akan Saya pikirkan. Tapi untuk maju ‘kan tidak gampang. Kita harus punya partai. Saat ini saya belum tahu apa masih ada partai yang berpaling kepada Saya. Lagi pula, Pilgub itu ‘kan masih lama, kalau sekarang bicara tentang Pilgub kok sepertinya tidak etis. Apalagi, Jatim ‘kan sedang dilanda musibah besar, antara lain Lapindo,” ia mengingatkan.

Haris memang bukan orang partai. Namun, ia dekat dengan banyak partai. Bahkan, kesuksesan Konggres Luar Biasa (KLB) PDI di Asrama haji, Surabaya, 1993 lalu, juga tak bisa dipisahkan dengan sosok Haris, yang ketika itu ia penanggung jawab Bakorstanasda Jatim dan Komandan Garnisun Tetap III Surabaya.

Ia juga dikenal sebagai sosok pintar dan tak menonjolkan diri. “Beliau orangnya pintar. Dekat dengan masyarakat. Beliau sangat memahami Jawa Timur, dan tak suka menonjolkan diri,”kata Mentik Budiono, senior PDIP Jatim, ketika rasan-rasan soal Haris di kawasan Medokan Ayu, Rungkut Surabaya.

MAJU BERSAMA PKB

Beberapa waktu kemudian, pada 26 April 2007 banyak media di Jatim, menulis nama Haris Sudarno salah satu calon kandidat Cagub melalui PKB. Hal ini tentu, setidaknya membuat masyarakat Jatim yang telah mengenalnya tersenyum, termasuk rakyat. “Saya senang kalau Gubernurnya nanti orang seperti Pak Haris Sudarno,” kata Maksum perajin sepatu sandal di kawasan Wedoro, Sidoarjo.

Ia mengaku mengenal sosok Haris Sudarno, ketika masih menjabat Pangdam, yang sering hadir dalam acara semaan al qur’an bersama Gus Mik (Alm).”Ia pejabat, tapi seperti ulama,” katanya.

Tak dapat dipungkiri, masyarakat Jatim memang lebih mengenal Haris sebagai jenderal yang saleh. Ia fasih mengucapkan ayat-ayat suci al-qur’an. Gaya kepemimpinan dalam setiap menghadapi masalah pun, sangat menyentuh nurani kedamaian masyarakat Jawa Timur. Barangkali itulah buah dari perpaduan sifat kepemimpinan formal dan informal, yang tumbuh kuat pada diri Haris semenjak masih kanak-kanak. Ia juga lahir dan dibesarkan di lingkungan keluarga Nahdliyin (warga NU)

Nuansa kepemimpinan formal, ia teladani dari ayah kandungnya. Sementara kepemimpinan informal dari ayah tiri, yang guru mengaji di dusun kelahirannya Desa Trangkil, sekitar 10 Km sebelah utara Kota Pati, Jawa Tengah.

Sang Ayah, Sodiwirjo alias Siswodiwirjo, Kepala Desa yang sangat dihormati di jamannya, meninggal dunia di saat perang kemerdekaan I tengah berkecamuk tahun 1947. Usia Haris masih 6 tahun. Beberapa tahun kemudian, demi putra-putranya Ibunya memutuskan menikah lagi dengan pegawai perkebunan Belanda, yang juga guru mengaji di desa itu, masih kerabat.

Sejak itu, Haris menemukan lagi figur Ayah. Ia pun mulai belajar mengaji serta membiasakan diri dalam kehidupan religius ala santri pondok. “Saya masih ingat waktu kecil, saya seringkali tidur di masjid dan langgar, “kenangnya.

TAK PANDAI BASA-BASI

Masa kecil inilah yang antara lain menjadikan Haris sosok pemimpin yang tidak pandai berbasa-basi. Apa yang diucapkan, itulah sikap sesungguhnya. Hal ini demikian pas dengan karakter masyarakat Jawa Timur yang dinamis, terbuka, spontan dan religius. Penampilannya yang kalem, low profil, lurus dan polos itu, cukup membuat kondisi masyarakat Jatim menjadi tenang.

Ketika memegang tongkat komando sebagai Pangdam V/Brawijaya hubungan ke samping, sesama pimpinan ABRI, Muspida Tk I, terutama dengan Gubernur Jawa Timur Basofi Sudirman, juga terasa begitu kompak dan akrab. Komunikasi kebawah dengan segala lapisan masyarakat, terutama dengan para tokoh agama, juga berjalan intens.

Bahkan Dahlan Iskan, suatu ketika, masih sebagai ketua PWI di masa kepemimpinan Pangdam Haris Sudarno, menilai bahwa ide Haris Sudarno sangat bagus dalam menggagas pertemuan rutin dua bulanan, antara Kodam, PWI, Pimpinan Media Massa dan Muspida Jatim. Pertemuan itu pun berjalan lancar, dan yang menjadi tuan rumah bergantian. Hal ini melahirkan suasana baru, dan segala persoalan, menurut Dahlan, menjadi lebih mudah diselesaikan.

Kepeduliannya terhadap pembinaan generasi muda juga cukup besar. Pak Haris sendiri pernah menyampaikan ide kepada Dahlan. “Saya sangat mendukung bahkan sempat terharu,”katanya, yang ketika itu Haris menyatakan bagaimana caranya agar Jawa Timur bisa melahirkan anak-anak muda yang berkemampuan dan berkeahlian di segala bidang, terutama ekonomi. Karena masa depan itu sendiri adalah masa depan ekonomi dan akan banyak bermunculan masalah yang berkaitan dengan soal ekonomi.

Sayangnya masa bhakti Haris Sudarno sebagai Pangdam hanya dua tahun, yang kemudian harus hijrah lagi ke Jakarta karena Mabes AD membutuhkannya. Namun, tantangan itu tampaknya akan menjadi pekerjaan lanjutan bila Haris nantinya memang benar menjadi sosok pilihan bagi PKB, untuk maju ke bursa Pilgub Jatim 2008. Ini juga sebagai hal yang wajar, profil Haris Sudarno memang lebih bisa diterima oleh masyarakat Jatim secara keseluruhan.

KOREM 084/ BHASKARA JAYA

Haris telah cukup akrab dengan Jawa Timur. Jenderal lulusan AMN Magelang 1965 ini, pada 1988 pernah menjabat sebagai Komandan Korem (Danrem) 084/ Bhaskara Jaya. Ini satu-satunya Korem di lingkungan Kodam V/ Brawijaya yang memiliki wilayah pulau terjauh dari pulau Jawa. Membawahi 9 Kodim. Tiga Kodim di Surabaya, Satu di Sidoarjo, dan satu di Gresik. 4 Kodim lain di Madura.

Salah satu Kodim di Madura, Kodim 0827 Sumenep, memiliki wilayah setara Koramil di pulau-pulau kecil, yang berjauhan letaknya. Antara lain dii pulau Pegerungan, yang malah lebih dekat dengan Lombok. Begitu juga pulau-pulau kecil yang jumlahnya hampir ratusan, beberapa di antaranya justru lebih dekat dengan kepulauan Maluku.

Saat menjabat Danrem 084 itu, Haris yang hobi sepakbola, juga menjabat ketua harian Persebaya. Bahkan ketika itu, nama Haris lebih dikenal sebagai bos Persebaya ketimbang sebagai Danrem.

KEPALA STAF

Setelah 15 bulan menjabat Danrem 084, Haris dipercaya pimpinan Angkatan darat, pada 1989 sebagai Kepala Staf Devisi-2/ Kostrad, di Singosari, Malang. Pada Agustus 1990, Pimpinan TNI AD mempercayakan tugas lebih tinggi, menjadi Kepala Staf Kodam (Kasdam) Jaya (Jakarta Raya). Di sini pangkatnya naik, memperoleh bintang satu, Brigadir Jenderal. Di sini pula Haris menghadapi peristiwa besar di bidang sosial politik, Pemilu 1992 dan Sidang Umum MPR 1993.

Memasuki 1993, namanya disebut-sebut yang mungkin bakal menggantikan R. Hartono, sebagai Pangdam V/Brawijaya. Masyarakat Jawa Timur pun seolah sudah menyampaikan selamat datang, marhaban bikhudlurikum. Itu karena Haris memang bukan orang baru di Jatim. Ternyata benar, pada 30 Maret 1993, Haris harus hijrah ke Jawa Timur, sebagai Pangdam V/ Brawijaya

Sekarang pun, bahkan sejak memasuki 2006 mulai ada rasan-rasan tentang Haris, kemungkinan kembali ke Jawa Timur. Ia diperhitungkan sebagai sosok paling berpeluang menggantikan Imam Oetomo, sebagai Gubernur Jatim pada 2008.

Dugaan itu semakin mendekati kenyataan. Di hotel JW Marriott Surabaya, Rabu (16/05), Haris hadir sebagai salah satu calon Gubernur Jatim dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) yang harus memaparkan visi dan misi dalam rapat tertutup.

Hal itu kiranya sebuah jawaban dari seorang Haris Sudarno, bahwa ia telah siap menerima amanah, untuk kembali mengabdi demi Jawa Timur dan Indonesia. Apalagi ketiga putranya, satu laki-laki dan dua perempuan telah dewasa, tak lagi menyita perhatiannya. Mereka adalah Bayu Gondo Pramono, Kristina Dwi Kurniastuti, dan Diana Tri Wulandari. |01L01, lacak.info

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: